Zenna Sabrina

Aku adalah nada yang berkata-kata.
[ Find me on twitter @zennasabrina ]

Tiga Pertemuan (part #1)

 I. Dewata, Agustus 2010

Dia perencana ulung. Segala yang dia kenakan begitu rapi; kaus hitam berlengan panjang yang dikerutkannya sampai ke siku, celana panjang berbahan jeans dengan warna gelap, dan wajah secerah pagi yang timbul dari redupnya lampu lobi hotel. Dia tampak menarik.

“Hai! Lama ya?” sapaku.

Derap langkah sneakers-ku mengagetkannya. “Ah, engga kok. Santai,” jawabnya, lalu menyunggingkan senyum.

“Kita kan belum kenalan secara resmi.” Aku mengulurkan tangan. Dia hanya tertawa. “Serius. Kita harus kenalan lagi. Secara resmi,” lanjutku.

Dia meraih tanganku. Memperkenalkan diri dengan badan ditegak-tegakkan. “Okey, Nona. Perkenalkan, nama saya Angga.”

“Ah, resmi banget kamu. Seperti memperkenalkan diri di kampanye Pemilihan Calon Ketua Senat. Aku Bianca.”

“Hahaha! Bukannya tadi kamu yang bilang kita harus berkenalan secara resmi?”

“Iya deh… Aku ngalah aja, daripada kita batal jalan-jalan,” jawabku sambil melangkah menuju tempat parkir. Aku sudah tak sabar menikmati suasana malam Pulau Dewata.

Saat menjabat tangannya barusan, dia mengenalkanku pada dua hal; namanya yang indah, dan senyumannya yang menggugah.

“Akhirnya, setelah sekian bulan berbalas kata, baru ini kita sempat bertatap muka. Hahaha!” tukasku sambil tertawa renyah.

“Hehe.. Iya ya. Kamu sih, larinya ke Jakarta terus,” ledeknya.

“Ah, kamu. Jadi, mau ke mana kita, Komandan?” tanyaku bersemangat, sampai tanpa sadar kedua tangan ini terangkat bak supporter bola.

“Hahaha! Semangat banget. Kita isi perut aja dulu. Kita makan nasi pedas. Gimana? Kamu suka pedas?”

Aku mengangguk mantap. Kelopak mataku melebar tanda sangat bersemangat. “Suka kok. Di rumah biasa makan yang pedas.” Dia menatapku sambil mesam-mesem manis. Tanpa menjawab lagi, dia menancap gas membawaku ke suatu tempat. Sebuah warung sederhana yang spesial menyajikan nasi pedas sebagai menu utama.

Tersaji seporsi nasi pedas di hadapan kami. Mataku memburu piring itu dengan tajam. Lambungku sudah berdemo sebab belum terisi sejak tadi siang.

“Tunggu apa lagi? Ayo, dimakan! Tapi makannya sedikit-sedikit saja dulu karena itu pe….” Belum selesai dia memberi peringatan, satu sendok nasi pedas sudah mendarat di mulutku. “…das banget,” lanjutnya dengan nada bicara menurun.

“Pahlawan Kesiangan! Kamu, telat. Aduh, pedas banget! Minumku… di mana minumku?” jawabku sambil mengipas mulut yang panas kepedasan.

“Hahaha! Kan udah keliatan dari namanya. Nasi pedas. Ya jelas pedas. Kamu sih, makannya beringas,” ujarnya sambil menyodorkan segelas teh hangat, dan masih terbahak menertawakanku.

Terdengar suara notifikasi pesan masuk di ponsel bututku. Maka segera kuseruput segelas teh hangat dan bergegas membuka ponsel untuk mengetahui dari siapa pesan itu. Tertera berbaris-baris pesan lengkap dengan nama pengirimnya. Ah, manusia ini lagi, gumamku.

Angga menyadari perubahan air mukaku. “Ada apa, Bi? Kamu baik-baik saja?”

“Hehe, bukan apa-apa kok. Aku baik-baik aja,” sahutku cepat. “Cepat dihabiskan yuk! Aku pengen kamu bawa aku ke suatu tempat.”

“Hah?”

“Boleh request tempat kan?”

“Boleh dong.”

“Ya sudah, kita makannya agak cepat. Habis ini kita langsung ke sana.”

“Siap, Nona Turis!” Angga mengindahkan permintaanku. 

Aku memintanya untuk mampir ke pantai. Aku merindukan bunyi ombak yang ajaib. Sayup-sayup terdengar dentum musik dipawangi para DJ yang berasal dari jajaran night club di seberang, tetapi di tepi laut ini kami membuat musik kami sendiri. Bernyanyi tanpa lirik serupa musik instrumental, kemudian berdansa berdua.

Malam itu tak banyak tempat yang bisa kami kunjungi. Setiap detik yang berjalan maju, membangun dinding waktu yang kian meninggi, membatasi kebersamaan kami. Lalu sampailah kami pada peluk perpisahan.

“Besok aku pulang. Flight jam 6 pagi,” kataku, menahan ketidakrelaan harus mengakhiri malam bersama Angga.

“Ah, ya. Sebelum tidur, cek ulang barang bawaanmu. Jangan sampai ada yang tertinggal,” ujarnya mengingatkanku. Aku membatin. Ya, tentu ada yang tertinggal. Ada separuh hati yang tertambat di sini, Angga. Tak lebih dari tiga detik lengan kami bertaut, tetapi pelukan itu ibarat merpati penyampai pesan; akan ada pertemuan selanjutnya. Entah kapan, namun pasti. Aku percaya.

Aku pulang dengan membawa tatapan mata itu. Tatapan mata ketika kami berdansa di pantai yang tenang dan hanya ada suara debur ombak mengiringi langkah demi langkah kaki kami. Tatapan yang menghangatkan batin.

Selama ini kami hanya bertukar cerita melalui dunia maya. Namun entah mengapa, percakapan yang kami lakukan –meskipun hanya di depan layar digital– ibarat ikan yang lunglai tertangkap kail. Dia berhasil menyeret perhatianku dengan deret katanya, juga pesona saat dia menjelaskan hal yang tak kumengerti. Dan tadi malam, pesona itu nyata kulihat dengan mata kepalaku.

Setiap tempat, setiap gerak dan setiap kecap yang teruntai bersamanya, berhasil melekat di selaput otakku, menjadi potongan-potongan memori yang tertumpuk rapi. Menunggu untuk diulas kembali, di rentang pertemuan berikutnya.

 

II. Megapolitan, November 2011

Lelaki itu duduk di salah satu Coffee Shop yang sudah kami sepakati untuk jadi tempat bertemu. Aku tak sabar untuk menemuinya lagi. Kupercepat langkahku menuju ke arahnya. Sudah kutebak apa yang sedang dia lakukan sambil menungguku datang. Ya, lagi-lagi dia menungguku datang. Kepalanya menunduk menatapi layar laptop kesayangannya. Jemarinya menari di atas tombol yang berderet, menghasilkan irama teratur seperti seorang pianist membelai tuts. Wajahnya, tidak jauh berubah dari pertama kali aku menemuinya di Pulau Dewata.

“Hai! Lama ya?” Pertanyaan ini terlontar lagi dari mulutku, dan masih berpasangan dengan jawaban yang sama. “Ah, engga kok. Santai aja,” sahutnya.

Kami saling bertatapan menyadari sesuatu. Kemudian tawa kecil kami menyusul. “Kok bisa kayak ngulang adegan waktu pertama ketemu gini ya?” tanyanya dengan sisa tawa barusan.

“Haha! Iya ya. Cuma beda tempat.” Dia ingat. Aku ingat. Kami sama-sama masih mengingat. Aku pamit sebentar untuk memesan minuman. Greentea latte. As usual. Kemudian kembali duduk di kursi yang ada di hadapannya. Angga tidak menyadari kedatanganku, sebab masih fokus dengan kertas digital itu. Kuintip sedikit layar laptopnya. “Sibuk banget kayanya. Lagi ngapain sih?”

“Eh, kamu. Hm, saya lagi memindah kita.”

“Maksudnya?”

“Iya, lagi memindah kita jadi sebuah tulisan. Saya jadikan kamu dan saya sebagai tokoh utamanya. Ceritanya tentang dua orang yang terjebak friendzone,” jelasnya tanpa memandang ke arahku. Dia menulis seperti orang kesetanan.

Sedetik kemudian suasana hening. Aku diam. Mencoba mencerna perkataannya. Lalu-lalang orang, atau suara samar pengunjung lain yang sedang mengobrol seakan lenyap. Tak lama, dia menyadari aku yang mematung.

Dia mencoba mencairkan tubuhku yang membeku di depannya. “Eh, engga. Saya cuma bercanda. Hahaha! Ini cuma dalam tulisan saya saja,” katanya menjelaskan, disusul dengan tawa yang aku rasa itu dipaksakan.

“Ada sesuatu di antara kita yang membuatmu tidak nyaman, Angga?” tanyaku serius. “Pertemanan kita mungkin?” lanjutku. Masih dengan wajah serius.

Kini giliran dia yang terdiam. Aku, menunggunya menjawab dengan mencoba tak bersuara, agar jangan sampai satu kata pun darinya kulewatkan.

Baru saja dia menghela napas, ancang-ancang menjawab. Namun tiba-tiba sesosok wanita berpakaian mini dress hitam datang menyapanya. Entah siapa wanita ini. Rambutnya tertata rapi. Sangat rapi. Nampaknya dia sempat mampir ke salon untuk menata rambut. Kakinya terbalut sepatu berhak tinggi. Kutaksir tingginya mencapai 9 cm. Niat sekali, pikirku. Kubandingkan dengan pakaian yang kukenakan saat itu. Kaos yang lumayan kebesaran, celana jeans, dan flat shoes berwarna netral. Satu-satunya flat shoes yang kupunya dan yang membantu menampilkan sosokku sebagai perempuan sejati. Sisanya, hanya ada sneakers dan sepatu booth yang berjajar di rak sepatu milikku. Maka kusakralkan flat shoes ini sebagai flat shoes andalan. Hanya kupakai untuk menghadiri beberapa acara resepsi pernikahan saking sakralnya. Namun aku memakai kembali sepatu ini untuk menemui Angga. Setidaknya dia harus tau aku memiliki satu sepatu manis ala perempuan walaupun pilihan baju yang kukenakan masih seacak-acakan biasanya. Dan rambutku, tampak ala kadarnya digulung ke atas. Santai sekali penampilanku. Ah, bukan, Ini dibawah garis santai. Seperti hendak mengamen di depan Mall ini. Ah, biar saja. Aku nyaman seperti ini.

“Hai, Dear! Kamu sudah lama di sini? Apa kabar? Wah, aku pikir kamu sendirian,” sapanya pada Angga. Dear? Dia memanggil Angga “Dear”? Ah, mungkin hanya sapaan teman dekat. Atau memang mereka sedang dekat? Kenapa Angga tidak cerita? Kepalaku cerewet sekali daritadi memunculkan banyak dan semakin banyak pertanyaan.

Lalu wanita itu menjabat tanganku, memperkenalkan diri, “Kenalin, aku Kiara.”

“Aku Bianca.”

Tersungging senyum kecut di bibirku. Namun tampaknya wanita itu tak sadar. Dia lebih fokus ke kursi kosong yang ada di sisi kiri Angga. Kemudian Kiara duduk menjajari Angga. Menit demi menit berjalan. Mereka mengobrol asik tanpa mempedulikan ada satu manusia lagi yang duduk semeja dengan mereka. Sesekali Angga melirik ke arahku. Sepertinya dia tahu aku mulai tak nyaman berada di tengah-tengah mereka. Hallooo! I’m here. Kalian pikir aku cameraman yang merekam adegan mengobrol kalian di sini, hah? Batinku menggerutu.

Dari sorot mata dan bahasa tubuh, wanita ini menyimpan rasa padanya, aku tahu. Sial, ternyata dia membuat janji tidak hanya denganku. Lebih baik tadi aku tak usah datang, daripada harus menikmati pemandangan semacam ini. Membuat gerah. Sebentar, kenapa aku menggerutu? Aku cemburu? Ah, tidak. Aku tidak cemburu.

Kulihat Angga mengobrol sambil meringis-meringis memegangi perut. Sepertinya asam lambungnya naik. Pasti dia belum makan. Aku tak tega melihatnya. Tanpa memberitahu akan ke mana, aku berpamitan sebentar. Mencarikannya obat. Namun ketika aku kembali, hanya tertinggal kursi dan cup bekas minuman yang kami minum tadi.

Beep. Beep. Suara pesan masuk di ponselku.

 

“Kamu di mana? Saya pergi mencari makan sebentar dengan dia. Perutku sakit, belum makan. Tadi kutunggu kamu, kupikir ke toilet, tapi lama sekali.”

 

Serasa ada palu yang baru saja memaku tubuhku. Mataku tertuju pada pesan itu. Tanganku bergetar. Kakiku berat. Seperti ada reruntuhan atap gedung yang menimpa tubuh. Baiklah, hati, kau benar. Aku, cemburu.

Meski jemariku terasa beku, kuusahakan membalas pesannya setenang mungkin.

 

“Oh, aku tadi cari obat untukmu karena kulihat kamu mengobrol dengannya sambil meringis kesakitan dan memegangi perut. Tapi tak apa, obat ini bisa kutitipkan ke cassier di coffeeshop ini. Diambil ya. Disimpan untuk jaga-jaga.”

Sent.

Beep. Beep. Pesan balasan masuk.

 

“Kamu mau ke mana? Sudah makan? Susul kami aja. Kami makan di lantai tiga.”

 

Angga menawariku duduk makan siang bersama mereka. Aku tak perlu berpikir ulang untuk menolak. Lebih baik menjawab tidak, daripada menyakiti hati dan mataku.

 

“Ah, tidak usah. Sudah makan kok. Just take you time with her. Aku pulang dulu ya. Senang bisa bertemu kamu lagi. Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya. :)”

Sent.

Aku berbohong. Perutku pun masih kosong sedari pagi, tapi kejadian ini membuatku mendadak kenyang. Seharusnya aku mengisi perut ini dengan sepiring nasi yang tersaji bersama tawa kita seperti yang sudah kubayangkan semalam, Angga.

Words by me, photo by Guswib.

Words by me, photo by Guswib.

commaditya asked: Bagaimana cara memotong jarak agar saya bisa memeluk kamu sekarang juga?

jika saja aku tau, pastilah aku sudah berada di sisimu malam ini, menemani dan merawat kekasihku yang sedang sakit.

menyerahkan asked: Halo Kak Zenna, Apa arti kenyamanan untuk seorang wanita ?

kenyamanan adalah kuncimu mendapatkan kejujuran seorang wanita. kenyamanan adalah kunci untuk kamu dapat membuka banyak loker di kepala dan hati mereka. dan kenyamanan adalah alat yang akan membantumu bernafas ketika akan menyelami hati terdalam dari seorang wanita.

rayirey asked: hai kak zenna yang manis, biasanya kau dapat dari mana inpirasi terbesar dalam berkata-kata ?

dari mana saja. segala yang ada dalam hidup adalah inspirasi. bahkan cangkir kosong di hadapanmu dapat menjadi ispirasi.

neponep asked: aku tenggelam dalam baris tulisanmu diantara gemercik hujan bulan desember ini. terus terang aku sangat suka dengan tulisanmu. speechless?iya haha. mungkin hanya itu yang bisa terucap sekarang tidak lebih dan tidak kurang. I love your writing. keep calm and stringing words.

terima kasih. dukungan seperti inilah yang aku butuhkan untuk tetap bersemangat menulis. :)

riznr asked: hai kak zenna, bagi pengalaman kecilmu dong ka. aku penasaran, kehidupan kecil kakak seperti apa, sampai bisa merangkai kata-kata yang indah untuk di baca :)

masa kecilku dihiasi oleh kesederhanaan. kesederhanaan yang menyublimasiku menjadi pribadi yang lebih bijak dan dewasa dalam memandang hidup. hmm, aku suka menulis dan menyanyi sejak kecil. :)

carakubersuara asked: hi, ka zenna. pernahkah kamu ditinggalkan? lalu akhirnya orang itu kembali lagi dengan beribu penyesalan. tetapi kepercayaan terlanjur rusak dan hanya ada pikiran negatif yang datang. bahkan aku sampai tak bisa membedakan mana intuisi dan kecemasan. ingin sekali kembali percaya dan menjalani hubungan yang baik-baik saja.

ada dua pilihan ketika kau sedang meragu, yaitu tidak menempuhnya sama sekali, atau melawan keraguan itu dengan menjalaninya dengan penuh keyakinan. sebab perlu kau tau, berjalan dengan menggenggam keraguan hanya akan mendapat kerugian. 

zulyazarina asked: Hi Zenna, rasanya senang sekali bisa menemukan mu di tumblr ini. Baiklah,aku tak ingin mengoceh terlalu panjang lebar, aku ingin menanyakan satu hal yang sangat mengganggu fikiranku akhir-akhir ini. Apa yang harus aku lakukan untuk bisa melupakan orang yg memberi harapan palsu kepada ku? Mgkn aku yang salah karna telah berharap lebih padanya. Aku selalu menunggu kamu menjawab pertanyaan ku ini, Zenna

harapan tak ada yang palsu. bisa jadi itu dikarenakan matamu berlebihan saat memandangnya. efek kimiawi dari rasa cinta. wajar. maka carilah strategi untuk melindungi hatimu. :)

raymondgandi asked: Sebut saja 'rindu' itu aku dan waktu penantian ialah 'kapan'. Lalu, mampukah kau menebak-nebak 'bertemu' itu apa?

Jika penantian adalah pertanyaan, maka pertemuan adalah retorika. Dan jika penantian adalah suatu kalimat, maka pertemuan adalah tanda koma.